Mencintai Rasul

Abdullah
bin Hisyam menceritakan, suatu hari ia dan sejumlah sahabat melihat
Nabi Muhammad SAW sedang menjabat tangan Umar bin Khatab. Sambil
berjabat tangan itu, Umar berkata, ‘‘Demi Allah wahai Rasulullah,
engkau lebih aku cintai daripada segalanya, kecuali diriku sendiri.”
 

Mendengar
perkataan Umar, Nabi berujar, ”Tidak beriman salah seorang dari kamu
sampai aku lebih dicintai daripada dirinya sendiri.”
Mendengar sabda
Nabi, Umar pun berkata, ‘‘Kalau begitu, demi Allah engkau lebih aku
cintai daripada diriku sendiri.”
Mendengar jawaban sahabatnya ini,
Rasulullah menegaskan, ”Sekarang inilah imanmu telah sempurna, wahai
Umar.”

 

Dalam sejarah Islam, kita dapati banyak sekali
sahabat Rasulullah yang membela dan mencintainya melebihi dirinya dan
keluarganya. Mereka rela berkorban termasuk nyawanya sendiri dalam
membela Nabi. Seperti Ali bin Abi Thalib, saat Nabi hendak hijrah ke
Madinah, untuk mengelabui kaum kafir Quraish, bersedia tidur di tempat
tidur Nabi.

 

Ada kisah menarik dari seorang perempuan Anshar
ketika Perang Uhud. Dalam peperangan melawan kaum kafir, perempuan ini
telah kehilangan suami, ayah, dan saudara lelakinya, yang syahid
membela Islam. Ketika oleh beberapa sahabat berita duka ini disampaikan
kepadanya, perempuan itu bertanya, ”Bagaimanakah keadaan Rasulullah?”
Dijawab, ”Beliau sebagaimana yang engkau cintai.”

 

Setelah
perempuan itu melihat sendiri Rasulullah, ia pun berkata, ”Segala
musibah sesudah engkau adalah kecil.”
Para ulama dan sejarawan Islam
menyatakan, ”Mencintai Rasulullah merupakan fenomena kecintaan kepada
Allah. Sebab, beliaulah pembawa wahyu, penyampai risalah, yang
membimbing manusia ke jalan kebenaran dan penunjuk kepada jalan yang
lurus, yaitu jalan Allah pemilik segala yang ada di langit dan bumi.

 

Allah
sendiri memberikan penghargaan yang tinggi kepada Rasulullah, sebagai
contoh panutan. Begitu tingginya penghormatan kepada Nabi, sehingga
diabadikan dalam surah Al-Ahzab ayat 56 yang berbunyi, ”Allah dan para
malaikat memberikan salam kepada Nabi. Wahai, orang-orang beriman,
berikanlah shalawat dan salam kepadanya.”

 

Karena itulah, umat
Islam di segenap penjuru dunia menjadi sangat tersinggung dan marah
ketika Nabi Muhammad, yang mereka cintai dan hormati itu, dihina dalam
bentuk kartun di sebuah harian di Denmark, dengan dalih kebebasan pers
yang tidak dapat diterima oleh akal sehat, menunjukkan bagaimana
kebencian mereka terhadap Islam.

  (Alwi Shahab )

Leave a Reply